Minggu, 06 September 2009

Menyambut Kesunyian

Rasa galau semkin bergelantungan di dalam rohku, tak tahu tapi itulah. Ingin aku menghujat; tapi itu bisa merusak dunia. Seperti TUhan tak berpihak dengan ku! Tiada sebutir pasir pun yang ada ditanganku. Pasir di depan mata tapi telh dihembus oleh angin berlari jauh meski hanya sepoaian. Risih aku dengan dunia, benci aku dengan pasir; benci aku dengan angin. Perjalanan yang ku tempuh seperti tidak berguna; hasilnya tak pernah ku panen bila ku berkebun sepertinya.

Dirundung ruang pengap, gelap, hitam, pelit cahaya aku nyebutnya; ruang jiwa q tk mampu ku hibur; apalgi terhibur. Aku dendam; aku benci akan keadaan yang menimpaku. Tapi haruskah aku jadi pendendam? Percuma, kata nasihat ulama. Dendam itu dosa. Tapi itulah duniaku......... Burung ku panggil tak lagi menyhut panggilanku; padahal aku bisa bhsnya brung. aku di tinggalkan....tapi aku harus menyambutnya. itulah kesunyianku...............

Melempar Kesendirian

membangun dunia rasanya akan tercapai. tapi realistiskah? membangun dunia baru impianku. aku bosan berjalan tiada teguran. tiadak ada yang menoleh; itulah hidup ini. terasa sulit jadinya. selagi ada kesempatan ingin ku menggapainya. kenapa? aq sadar jiwaku bukan milik diriku sendiri. Ad alam, ada tuhan disn.

tapi adakah yg mendengar jiwaku? aq kejar bintang agr dia mau berteman seumur hidup dengan q, yg q tahu bintang bisa bersinar; q ingin sinarnya menerangi diriku biar q terlihat biar ku tak lg sendiri sunyi. tolong loloskan permintaan q untuk melempar kesendirian

Bolehkah Aku Minta Maaf?

Itulah kata yang pernah di ucapkan Fidel Castro kepada Che Guevera; teman sama-sam memanggul senjata. Masuk hutan keluar hutan dalam merebut revolusi Cuba. Tapi Che diam tanpa respon tetap dengan jalanya sendiri dan melanjutkan ekspansi k Bolivia. Entah Fidel atau Che yang benar kita tidak tahu karena mereka adalah teman baik awalnya. Atau mereka sama-sama klaim menang atas kelicikan mereka. Saling puji di catatan hidup mereka itu memang keharusan sebagai pelaku revolusi. Merasa menang atas kelicikan masing-masing; entah strategi belah bambu; entah ayam potong; entah bola salju hanya arwah Che Guevara dan Bangkai Fidel yang saling tahu. Sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh insan2 pejuang yang memiliki tujuan sama, yakni revolusi. Pertanyaan si Fidel kpd Che "Bolehkah Aku Minta Maaf"?

Derai-Derai Cemara

Chairail Anwar dalam Derai-Derai Cemara

di sunting ulang oleh Sutami dari Derai Derai Cemara Chairil Anwar. Yayasan Indonesia. Cetakan kedua. 1999. Jakarta Timur

Beliau lahir di Medan 26 Juli 1922, putra tunggal pasangan Toeleos dan Saleha. Ayahnya pamongpraja di Sumatera Utara dan pada zaman revolusi kemerdekaan menjadi Bupati Indragiri.

Masa kecilnya dihabiskan di Medan dengan sekolah di HIS (setingkat SD) dan muncul sebagai Chairil yang cerdas dan berbakat menulis. Pada usia 19 tahun ia hijrah ke Jakarta ikut ibunya, sebagai protes ayahnya yang menikah lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena kesulitan ekonomi pada tahun 1942, Chairil putus sekolah.

Masa putus sekolahnya di isinya dengan membaca karya sastra Indonesia, Belanda, Jerman, Inggris, Amerika dan berbagai terjemahan sastra dunia; beruntung ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman secara aktif. Karya yang didalaminya antara lain : Andre Gide, John Steinbeck, Reiner Maria Rilke, Ernest Hemingway, WH Auden, Concard Aiken, Jhon Corford, Hsu Chih-Mo, Archibald Macleish, Willem Elsschot, Marsman, Edgar du Perron, J. Slauerhoff dan lain-lain.

Chairil dikenal di lingkungan seniman Jakarta ketika berusia 21 tahun (1943) saat sering mengantar puisi-puisinya ke Panji Poestaka dengan rajin. Ia sempat bekerja menjadi redaksi majalah Gema Suasana (1948) hanya bertahan tiga bulan.

Chairil menikah dengan Hapsah Wiradiredja, 6 September 1946 menghasilkan putri tunggal bernama Evawani Alissa, lahir 17 Juni 1947. Penyakit paru-paru merenggut nyawanya pada usia 26 tahun 9 bulan dengan meniggalkan warisan 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan, namun ia mengilhami untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan estetika dalam bahasa Indonesia yang penuh tenaga.

Suatu ketika Chairil pernah berkata kepada istrinya mengenai cita-citanya.

“Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi menteri Pendidikan dan Kebudayaan,”katanya. (Panggilan kesayangan istrinya dalah Gajah, karena badannya gemuk).

“ Ah, kalau umurmu panjang kamu bakal masuk penjara,” gurau istrinya. Kemudian selanjutnya Chairil menyambung lagi,

“Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga,” demikian katanya.

Puisi nya yang paling berkesan “ Cintaku jauh di Pulau”

Perahu melancar, bulan memancar
Dileher kukalungkan ole-ole buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
Aku tidak ‘kan sampai padanya

Puisi-puisinya antara lain:

(1) Prajurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam, bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

Ada disisiku selama kau menjaga daerah yang mati ini.

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menusuk malam
Malam yang berwangi mimpi, berlucut debu…
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu.


(2) Aku berkisar Antara Mereka

aku berkisar anatar mereka sejak terpaksa
bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka

pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
kenyataan-kenyataan yang didapatnya.

Kami pulang tidak kena apa-apa
Sungguh pun ajal macam rupa jadi tetangga
Terkumpul dihalte, kami tunggu trem dikota
Ah mati mati dalam amalam ada doa
Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta mereka

Semoga spylis dan segala kusta

Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama
Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bias
Kualami kelam malam dan mereka dalam diriku pula.


(3) yang terampas dan yang putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang dimana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet sampai juga deru angina

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau dating

dank au bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku


(3) Aku Berada Kembali

aku berada kembali. Banyak yang asing;
air mengalir tukar warna,kapal-kapal, elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari
lain

hanya
kelengangan tetap tinggal saja.
Lebih lengang aku dikelak-kelok jalan;
Lebih lngang pula ketika berada antara
Yang mengharap dan yang melepas

Telinga kiri masih berpaling
Ditarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang
Guruh

(4) Kepada Peminta-minta

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jagan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua dimuka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau dating
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku dibumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum ditelingaku

Baik-baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

(5) Derai-derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angina yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kami

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhiurnya kita menyerah

(6) selama bulan menyinari Dadanya

selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang putih padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
aku bukan lagi si cilik tidak tahu jalan
dihadapan berpuluh lorong dan gang
menimbang;
ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan”pas
bebas”

selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tida batas
sepilah panggilan-panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Juga ibuku yang berjanji
Tinggal meninggalkan sekoci

Lihatlah cinta jingga luntur:
Dan aku yang pilih
Tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
Rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi
Pada jendela kaca tiada baying dating mengambang
Gundu, gasing,kuda-kudaan, kapal-kapalan di
Zaman kanak,

Lihatlah cinta jingga luntur:
Kalau datang nanti topan ajaib
Menggulingkan gundu, memutarkan gasing
Memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan
Aku sudah lebih dulu kaku

(3) Buat Gadis Rasid

antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”
Dan

Angin tajam kering, tanah semata gersang
Pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku
-mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
Mengenai gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
-the only possible non-stop flight
Tidak mendapat

(9) Ino Mia

Terbaring dirangkuman pagi
- hari baru jadi -
Ina Mia mencari
Hati mimpi,
Teraba Ina Mia
Kulit harapan belaka
Ina Mia
Menarik nafas panjang
Di tepi jurang
Nafsu
Yang sudah lepas terhembus,
Antara daun-dedaun mengelabu
Kabut cinta lama, cinta hilang
Terasa gentar sejenak
Ina Mia menekan tapak di hijau rumput,
Angin ikut
- dan yang penghabisan yang mengipas -
Berpaling
Kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah di
tekongan


(10) Persetujuan Bung Karno
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautan

Dari mulai tanggal 17 agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak
& berlabuh

Aku Cinta Padamu

Aku Cinta Padamu

Goerge seorang penulis dan Grace seorang wanita karir yang berkonsentrasi di dunia bankir. Merka berkenalan di sebuah acara pesta seorang teman mereka. Sebuah hubugan yang biasa saja. Tidak ada respek dari Goerge maupun Grace pada mula ketemu.

Tapi semua berubah saat Grace menawarkan Goerge pulang sama-sama. Saat goerge menunggu taxi ingin pulang ke rumahnya. Perbincangan singkat di mulai. Goerge dan Grace begitu cepat bahkan mudah akrab.

Di waktu senggang Goerge mengajak Grace jalan berdua. Bercerita tentang apa saja, kebetulan tingkat pandangan hidup mereka agak mirip. Goerge pun jatuh hati terhadap Grace. Grace tahu itu tapi Goerge masih belum mau mengatakannya intinya waktu belum tepat menurut pandangannya.

Goerge dan Grace semakin akrab. Benih cintah yang tumbuh semakin mekar, Grace hanya tertawa melihat Goerge yang telah diberinya peluang untuk menyaakan cinta pada dirinya. Hampir sebulan perkenalan mereka, Goerge bertanya sama Grace tapi hanya minta pendapat. Ia di tawari untuk menuliskan cerita hidup masyarakat di pedalaman tentu saja ini akan memakan waktu yang lama. Lama Goerge berfikir akhirnya tawaran itu diterimanya setelah dikuatkan oleh saran Grace sang pujaan hatinya.

Karena pendapatan yang dijanjikan bila ia mampu menyelesaikan sanggup buat melamar anak orang katanya. Wow besar benar kata grace lalu mereka tertawa berdua dalam menghabiskan malam.

Komunikasi tetap lancar meski mereka berada di tempat berjauhan. Setiap malam Goerge selalu terbayang dan teringat pada Grace. Grace yang juga ditumpuki oleh segala aktivitas. Saat Goerge mengajukan cuti beberapa hari hatinya riang karena ia berasumsi dapat bertemu Grace. Karena kesibukan grace berkilah bahakan menghindar kabarnya tapi Grace juga sedang sakit. Membuat ia sedikit putus asa dan kecewa hatinya karena Goerge memendam perasaan .

Lalu ada panggilan dari pihak yang mengontraknya untuk segera kembali. Mungkin karena rasa cinta yang yang tak sampai akhirnya merambat ke pekerjaan. Si Goerge bersitegang dengan produksi kepenulisan. Banyak umpatan yang lontarkan oleh si pemodal hingga membuat Goerge naik pitam tak kepalang tanggung. Untung segera di damaikan oleh temannya Goerge hingga sedikit mereda.

Bila si Grace mendengar umpatannya mungkin si Grace pun bisa dendam kesumat atau tersinggung. Itu akibat kesalah pahaman Goerge dengan orang lain bukan dengan Grace.

Akhirnya diputuskan oleh si Goerge ia akan selesaikan proyeknya dengan perasaan kacaubalau. Pikirannya menjadi bercabang si grace yang seperti tidak peduli lagi dengan rasa cintanya dan pekerjaan yang menyisakan pertikaian.

Tibalah saat yang genting ketika Goerge terjebak oleh kecelakaan di mana nyawanya sekarat dan tidak mungkin tertolong. Dan berita ini sampai ke Grace. Sebelum hembuskan nafas, Goerge menangis dan berteriak memanggil Grace….Grace….Grace…. Aku cinta Padamu!!! Kawannya Goerge mendekat. Tenang katanya. Aku hamper dekat kata Goerge. Tolong kamu serahkan hasil tulisanku kepada grace. Perempuan yang sangat aku cintai tapi aku tak sempat mengatakan cintaku padanya. Apakah ia mengetahuinya kata temanya di akhir percakapan. Ya, kata Goerge. Dan Goerge tak mampu bertahan terhadap ganasnya kecelakaan. Rohnya pergi dengan meninggalkan rasa penasaran cintanya kepada Grace, perempuan sederhana yang ia kagumi, sayangi, dan cintai dengan sepenuh hati.

Si Grace juga sedih apalagi saat kenangan terakhir dari Goerge yang diserahkan kepadanya oleh si teman Goerge langsung membuat Grace bercucuran air matanya. Karena ia perempuan yang humanis dan punya nilai kemanusiaan yang tinggi. Goerge…erang si Grace; lelaki yang tewas saat bekerja padahal ia akan melamar Grace bila pekerjaanya selesai. Itulah kalimat terakhir dalam catatannya yang di baca oleh Grace.

Puisi Yang Q terima dari seorang kaum Hawa 31 Juli 2009

Kepada Adam pada Tanjung Timur,

jika tak keberatan,

'ku letakkan kau dalam kata-kata,

bersama laut saat kita menanti pagi

pada langit penuh asap;

orang2 bilang itu kembang api.

Tapi apalah pedulimu pada waktu?

Mari duduk, katamu;

biarkan waktu berbisik pada pasir2 ini saja...

Tari Pendet

Tari Pendet Menentukan Nasib Bangsa
Oleh: Sutami
Indonesia seperti tak pernah sepi dari deraan masalah. Masalah terus datang silih berganti. Datang untuk menyerang konsentrasi reaktif masyarakat bangsa. Entah sudah yang keberapa kalinya Indonesia seperti telah ditakdirkan untuk selalu bersitegang dengan Malaysia. Dari masalah batas wilayah sampai ke masalah kebudayaan. Reog Ponorogo, lagu Sayang-Sayange dan terbaru Tari Pendet yang dijadikan iklan pariwisata oleh Malaysia cukup mengundang reaksi. Reaksi tidak terima Tari Pendet di klaim sebagai kebudayaan milik Malaysia. Tari yang berasal dari Bali tersebut namanya pun semakin dikenal, tidak menutup kemungkinan nama Tarian yang baru dikenal oleh Bangsa Indonesia di kawasan selain Bali.

Persoalan mengenai klaim kebudayaan cukup membantu rasa nasionalisme rakyat bila di takar dari membela Bangsa jika faktor emosi yang dikedepankan. Namun tetap menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan oleh pemerintah. Minimal tidak ada lagi kejadian kaliam-mengklaim bilapun itu memang benar terjadi. Sebab wacana yang berkembang sudah terlalu sering; apinya sudah besar menyala sulit juga untuk di padamkan. Di satu sisi justru akan terus memojokkan bangsa Indonesia, sebab aset berupa kebudayaan bukan sekali dua kali di akui yang menyebabkan urat saraf Indonesia menegang. Tindakan resmi yang dilakukan oleh pemerintah justru kelihatan seperti tidak ada ujung tidak ada pangkal. Ataukah akibat memang pemerintah memiliki tabiat yang tidak terlalu mengganggap penting menjaga kebudayaan dari bahaya pencurian hak cipta oleh bangsa lain.

Sebenarnya dapat saja dikatakan bahwa sebagai Negara serumpun, Malaysia pada hakikatnya iri dengan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam. Sehingga rasa iri ditumpahkan melalui pengklaiman hak cipta. Tapi Indonesia dan Malaysia meski serumpun memiliki sejarah pernah ingin perang meski tidak sampai terjadi benar. Adalah presiden Soekarno, orang yang mencetus Ganyang Malaysia. Sebuah politik yang ternyata cukup ampuh untuk menyatukan kembali rakyat serta membangkitkan rasa Nasionalisme di tengah rentan bahaya dis integrasi bangsa. Karena pemberontakan yang semkain meluas dan kemerdekaan bangsa Indonesia yang di proklamirkan pada 17 Agustus 1945 telah seperti tanpa roh jadinya.

Bukan berarti Tari Pendet juga kita lepaskan semudahnya sehingga membiarkan Malaysia mempatenkannya. Sebagai anak bangsa tentu juga malu bila hal tersebut sampai benar-benar terjadi. Malu akibat menjaga warisan leluhur pun tidak mampu apalagi menjaga Negara sebesar Indonesia. Negara yang terpajang dari Sabang sampai Merauke dan dihubungkan oleh laut-laut yang sungguh kaya panoramanya. Terlebih detik-detik Proklamasi baru di peringati tentu menjadi nilai nambah rasa tanggung jawab mempertahankan Tari Pendet dari bahaya pencurian.
Tari Pendet menjelma menjadi ikon masalah bangsa yang begitu besar nampaknya. Sehingga sedikit banyak perhatian-perhatian kepada masalah infrastruktur; penggusuran mampu tergusur olehnya. Ruang refleksi bagi hari kemerdekaan lebih banyak tersedot ke tari-tarian jadinya. Bukan berarti masalah tarian tidak penting. Namun jangan terlalu sampai membungkus persoalan-persoalan mendesak dan sangat menentukan nasib bangsa ke depan. Memang celah dari budaya cukup efektif mencuri perhatian masyarakat, dan sedikit terlupa dalam melihat realita bangsa sesungguhnya. Menyelesaikan masalah budaya memang adalah keharusan yang mendesak. Inventarisasi budaya-budaya nusantara adalah hal yang bisa di lakukan agar tidak terus menerus menjadi isu dalam memoles keadaan.

Ketika hangat-hangatnya persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan Presiden (Pilpres) 8 juli 2009 bom di Rizt-Charlton dan J.W Marriot yang meledak. Mendekati kucuran hutang dari IMF Tari Pendet yang bergejolak ke permukaan. Fokus dalam mengawal nasib bangsa dapat menjadi tidak maksimal dibuatnya. Di Negara yang menganut paham presidensil idealnya memang ada oposisi dalam mengawal jalannya pemerintahan. Tapi politisi Indonesia belum mampu mewujudkannya. Sehingga bisa menyebabkan pemerintah berjalan dengan tidak terkawal.
Apalagi masa Kabinet Indonesia Bersatu hanya menyisakan kurang lebih sebulan lagi perjalanannya. Dan pemenang pilpres telah ditetapkan oleh Pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan dikuatkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yakni SBY- Boediono. Berarti masa-masa penyusunan kabinet baru telah di mulai dan itu yang mesti soroti. Sebab dalam kampanye debat calon presiden tidak ada satu pun calon mengungkap bagaimana cara ia merekrut para pembantunya (menteri) dalam mewujudkan mimpi-mimpinya yang tertera dalam visi misi. Asal rekrut atau hasil pesanan pihak luar adalah merupakan hal yang perlu dihindarkan demi nasib bangsa yang cita-citakan oleh Undang-Undang dasar 1945 yang tertera pada alenia ke empat.

Kepemilikan aset oleh asing seperti oleh Freefort sebenarnya adalah problem paling utama bangsa biar ke depan kesejahteraan yang diimpikan mampu terwujud. Kekayaan yang terkandung di perut bumi jangan sampai menjadi lahan kompromistis antara penguasa dan asing dan bukan dengan rakyatnya. Yang telah menjadi persoalan yang sulit lepas dari masalah kebangsaan meski telah merdeka 64 tahun lamanya. Sehingga Tari Pendet tariannya yang indah; sayang bila keberadaanya hanya sekedar menjadi alat demi menggelabui nilai kritis terhadap kondisi bangsa. Tapi tari pendet menjadi penentu nasib bangsa. Bila ia bukan alat pengngelabu; tapi hadir secara utuh dengan seninya. Bagaimana pun untuk konfrontasi dengan Malaysia sekarang bukan lagi zaman yang tepat; dana akan sia-sia mengalirnya. Semoga Tari Pendet dan Malaysia dapat beriringan dalam menyuarakan kejujuran dan keadilan yang di butuhkan oleh rakyat Indonesia maupu masayrakat dunia secara utuh. Demi tegaknya keadilan agar kesejahteraan rakyat terpenuhi dan menjadi bangsa yang merdeka dengan utuh.