Tari Pendet Menentukan Nasib Bangsa
Oleh: Sutami
Indonesia seperti tak pernah sepi dari deraan masalah. Masalah terus datang silih berganti. Datang untuk menyerang konsentrasi reaktif masyarakat bangsa. Entah sudah yang keberapa kalinya Indonesia seperti telah ditakdirkan untuk selalu bersitegang dengan Malaysia. Dari masalah batas wilayah sampai ke masalah kebudayaan. Reog Ponorogo, lagu Sayang-Sayange dan terbaru Tari Pendet yang dijadikan iklan pariwisata oleh Malaysia cukup mengundang reaksi. Reaksi tidak terima Tari Pendet di klaim sebagai kebudayaan milik Malaysia. Tari yang berasal dari Bali tersebut namanya pun semakin dikenal, tidak menutup kemungkinan nama Tarian yang baru dikenal oleh Bangsa Indonesia di kawasan selain Bali.
Persoalan mengenai klaim kebudayaan cukup membantu rasa nasionalisme rakyat bila di takar dari membela Bangsa jika faktor emosi yang dikedepankan. Namun tetap menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan oleh pemerintah. Minimal tidak ada lagi kejadian kaliam-mengklaim bilapun itu memang benar terjadi. Sebab wacana yang berkembang sudah terlalu sering; apinya sudah besar menyala sulit juga untuk di padamkan. Di satu sisi justru akan terus memojokkan bangsa Indonesia, sebab aset berupa kebudayaan bukan sekali dua kali di akui yang menyebabkan urat saraf Indonesia menegang. Tindakan resmi yang dilakukan oleh pemerintah justru kelihatan seperti tidak ada ujung tidak ada pangkal. Ataukah akibat memang pemerintah memiliki tabiat yang tidak terlalu mengganggap penting menjaga kebudayaan dari bahaya pencurian hak cipta oleh bangsa lain.
Sebenarnya dapat saja dikatakan bahwa sebagai Negara serumpun, Malaysia pada hakikatnya iri dengan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam. Sehingga rasa iri ditumpahkan melalui pengklaiman hak cipta. Tapi Indonesia dan Malaysia meski serumpun memiliki sejarah pernah ingin perang meski tidak sampai terjadi benar. Adalah presiden Soekarno, orang yang mencetus Ganyang Malaysia. Sebuah politik yang ternyata cukup ampuh untuk menyatukan kembali rakyat serta membangkitkan rasa Nasionalisme di tengah rentan bahaya dis integrasi bangsa. Karena pemberontakan yang semkain meluas dan kemerdekaan bangsa Indonesia yang di proklamirkan pada 17 Agustus 1945 telah seperti tanpa roh jadinya.
Bukan berarti Tari Pendet juga kita lepaskan semudahnya sehingga membiarkan Malaysia mempatenkannya. Sebagai anak bangsa tentu juga malu bila hal tersebut sampai benar-benar terjadi. Malu akibat menjaga warisan leluhur pun tidak mampu apalagi menjaga Negara sebesar Indonesia. Negara yang terpajang dari Sabang sampai Merauke dan dihubungkan oleh laut-laut yang sungguh kaya panoramanya. Terlebih detik-detik Proklamasi baru di peringati tentu menjadi nilai nambah rasa tanggung jawab mempertahankan Tari Pendet dari bahaya pencurian.
Tari Pendet menjelma menjadi ikon masalah bangsa yang begitu besar nampaknya. Sehingga sedikit banyak perhatian-perhatian kepada masalah infrastruktur; penggusuran mampu tergusur olehnya. Ruang refleksi bagi hari kemerdekaan lebih banyak tersedot ke tari-tarian jadinya. Bukan berarti masalah tarian tidak penting. Namun jangan terlalu sampai membungkus persoalan-persoalan mendesak dan sangat menentukan nasib bangsa ke depan. Memang celah dari budaya cukup efektif mencuri perhatian masyarakat, dan sedikit terlupa dalam melihat realita bangsa sesungguhnya. Menyelesaikan masalah budaya memang adalah keharusan yang mendesak. Inventarisasi budaya-budaya nusantara adalah hal yang bisa di lakukan agar tidak terus menerus menjadi isu dalam memoles keadaan.
Ketika hangat-hangatnya persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan Presiden (Pilpres) 8 juli 2009 bom di Rizt-Charlton dan J.W Marriot yang meledak. Mendekati kucuran hutang dari IMF Tari Pendet yang bergejolak ke permukaan. Fokus dalam mengawal nasib bangsa dapat menjadi tidak maksimal dibuatnya. Di Negara yang menganut paham presidensil idealnya memang ada oposisi dalam mengawal jalannya pemerintahan. Tapi politisi Indonesia belum mampu mewujudkannya. Sehingga bisa menyebabkan pemerintah berjalan dengan tidak terkawal.
Apalagi masa Kabinet Indonesia Bersatu hanya menyisakan kurang lebih sebulan lagi perjalanannya. Dan pemenang pilpres telah ditetapkan oleh Pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan dikuatkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yakni SBY- Boediono. Berarti masa-masa penyusunan kabinet baru telah di mulai dan itu yang mesti soroti. Sebab dalam kampanye debat calon presiden tidak ada satu pun calon mengungkap bagaimana cara ia merekrut para pembantunya (menteri) dalam mewujudkan mimpi-mimpinya yang tertera dalam visi misi. Asal rekrut atau hasil pesanan pihak luar adalah merupakan hal yang perlu dihindarkan demi nasib bangsa yang cita-citakan oleh Undang-Undang dasar 1945 yang tertera pada alenia ke empat.
Kepemilikan aset oleh asing seperti oleh Freefort sebenarnya adalah problem paling utama bangsa biar ke depan kesejahteraan yang diimpikan mampu terwujud. Kekayaan yang terkandung di perut bumi jangan sampai menjadi lahan kompromistis antara penguasa dan asing dan bukan dengan rakyatnya. Yang telah menjadi persoalan yang sulit lepas dari masalah kebangsaan meski telah merdeka 64 tahun lamanya. Sehingga Tari Pendet tariannya yang indah; sayang bila keberadaanya hanya sekedar menjadi alat demi menggelabui nilai kritis terhadap kondisi bangsa. Tapi tari pendet menjadi penentu nasib bangsa. Bila ia bukan alat pengngelabu; tapi hadir secara utuh dengan seninya. Bagaimana pun untuk konfrontasi dengan Malaysia sekarang bukan lagi zaman yang tepat; dana akan sia-sia mengalirnya. Semoga Tari Pendet dan Malaysia dapat beriringan dalam menyuarakan kejujuran dan keadilan yang di butuhkan oleh rakyat Indonesia maupu masayrakat dunia secara utuh. Demi tegaknya keadilan agar kesejahteraan rakyat terpenuhi dan menjadi bangsa yang merdeka dengan utuh.
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 September 2009
Kamis, 29 Mei 2008
Sabtu, 22 Juli 2006 (Terbit di AP Post)
Reformasi Gerbang Revolusi
Oleh : SUTAMI
KEMATIAN pahlawan reformasi terjadi delapan tahun silam. Tepatnya 12 Mei 1998 delapan hari menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan sembilan hari menjelang runtuhnya kepemimpinan dictator terkejam Indonesia Soeharto. Tanpa terasa waktu yang begitu bersejarah bagi perubahan bangsa Indonesia telah terlewatkan bersama oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.
Peranan dari mahasiswa dalam membuat sejarah negeri selalu menjadi landasan awal bagi sebuah perubahan. Dengan jiwa muda keidealisan estafet kepemimpinan dan keberlangsungan negeri Indonesia dapat termanufaktur hingga sekarang. Partisipasi aktif dalam menciptakan perubahan mulai dari Budi Utomo, penurunan Orde Lama tahun '66, kasus Malari , hingga reformasi 1998 pergulatan intelektual dalam melawan segala kepemimpinan yang tiran.
Kehidupan zaman terus mengalir deras tanpa dapat ditahan lajunya arus zaman Reformasi bergulir adalah tanda kemenangan rakyat terhadap kekejaman pemerintah Orde Baru dalam kehidupan bernegara, berbangsa, berpolitik, bahkan berpikir. Pergantian struktur pemerintahan pasca reformasi hingga sekarang, roh yang ditampilkan seolah jiwa feodal patrilinialistik masih menjadi primadona. Pengampunan berdasarkan alasan kesehatan dilakukan sewaktu moment sewindu reformasi sedang menggelinding. Prosesi penegakan hukum yang tebang pilih, pada pemerintahan sekarang sangat jelas tampak dipermukaan.
Rakyat Indonesia masih diselimut krisis kesejahteraan. Kontras memang, penguras keuangan negara, para debitur BLBI bebas dari jeratan hukum dan nyelonong menerobos istana melalui mediasi komandan tertinggi polisi. Sepertinya Indonesia sekarang seperti negara rimba. Segala kekuasaan difokuskan melalui kekuatan-kekuatan tangan para penguasa, hukum berjalan layaknya seperti sebuah pisau. Pisau akan mempunyai power atau kekuatan sangat luar biasa untuk mengiris benda yang berada dibawah, sedang mata pisau bagian atas membuat pisau seperti tidak mempunyai fungsi untuk mengiris. Jadi hukum di Indonesia berjalan dengan filosofi hukum mata pisau.
Sudah selayaknya sebagai rakyat Indonesia yang cinta akan kebenaran, segala tulisan dalam pembukaan UUD'45 kita tuntut realisasinya. Jadi persepsi berbagai kalangan selama ini bahwasanya setiap jeritan tuntutan harus dibubuhi solusi adalah sebuah paradigma pemikiran yang kolot, sebab para aparatur negara diberi uang bukan untuk menampung solusi melainkan bekerja sesuai kaidah yang berlaku demi kesejahteraan serta kemakmuran rakyat.
Agar semangat roh perjuangan reformasi tetap menggema dalam sanubari rakyat, jangan sekali-kali menggunakan jalan kompromi untuk setiap kebijakan-kebijakan yang dibuat melenceng dari semangat reformasi, melanggar hukum serta mengkhianati rakyat demi kepentingan kelompok, pribadi atau lainnya wajib kita lawan dengan dengungan power people.
Keadilan untuk rakyat dimasa pemerintahan SBY yang naik tahta hasil dari kue-kue reformasi pada pemilihan presiden secara langsung 2004 silam sangat jauh panggang dari api. Bayangkan setiap bayi terlahir dibumi Indonesia langsung disuguhi fenomema hutang yang harus tanggung si bayi polos tak berdosa hanya untuk menebus kesalahan penguasa dalam pemenuhan hasrat keserakahan.
Perjuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia sepertinya hambar oleh anak cucu sendiri. Masalah kebangsaan hingga hampir seabad kebangkitan nasional dan sewindu reformasi masih belum menampakkan sinar kecerahan menuju perbaikan segala sistem yang ada. Pusing mungkin kepala-kepala pejuang bangsa. Terutama pejuang mahasiswa yang gugur dalam mencetuskan reformasi. Kue-kue reformasi ternyata mereka suguhkan bukan untuk rakyat sekalian semesta, namun untuk oknum yang berlindung dengan nama reformasi.
Prosesi pengawalan reformasi oleh mahasiswa dikala sekarang sepertinya penuh kecurigaan dari pihak aparat. Banyaknya kasus bentrok polisi dengan mahasisiwa menandakan struktur pemerintahan belum menjadi bagian dari sejarah. Keengganan keterbukaan dengan public menjadikan pemerintah telah menciptakan sistem kasta dalam tatanan kehidupan. Rakyat menjadi kaum termarjinalkan oleh sistem yang diciptakan. Kegagahan aparat menjaga kantor tempat berlindung kaum-kaum penindas rakyat selama ini, tampaknya sebuah profesi yang digeluti tidak sesuai dengan cita-cita awal. Belum pernah terdengar aparat menghadang presiden SBY memasuki istana karena menaikkan harga BBM atau menghadang jaksa agung yang mengumumkan sebuah pengkhianatan reformasi untuk mengampuni Soeharto.
Kejelasan akan nasib bangsa sekarang masih samara-samar. Apakah akan kegerbang demokrasi atau militerisme. Persatuan dari semua kalangan yang cinta akan Indonesia sepatutnya bergandengan tangan berpikir dengan penuh bijaksana menselaraskan segala keniscayaan pemerintah. Perubahan menuntut perjuangan, pengorbanan, dan bukan omongan. Di zaman sekarang dituntut eksistensi peran dari kaum intelektual muda untuk segera merealisaikannya. Di tangan mahasiswa tergenggam arah bangsa yang selaras dengan harapan pendiri bangsa. Posisi strategis dari mahasiswa terkadang ternoda oknum mahasisiwa sendiri.
Sebagaimana pada hari sekarang tidak ada peran yang dimainkan untuk menghadapi prosesi bangsa. Mungkin terlalu nikmat bermain kompromi tingkat tinggi sehingga roh perjuangan identitas mahasiswa berganti menjadi pundit-pundi uang. Selalu mencari posisi aman, menjadi pahlawan kesiangan sepertinya penyakit akut yang mewabahi orgasnisasi mahasiswa berskala besar.
Memang telah terjadi sebuah patologi dalam diri bangsa sekarang ini. Karena begitu akutnya diperlukan penyembuhan melalui terapi yang sangat mahal. Untuk mengubah penindasan-penindasan menjadi berkah kecerian harus menguatkan ideology diri untuk menghadapi segala macam hadangan bahkan cemoohan.
Di Perancis untuk mengubah tatanan kehidupan bernegara tidak mengenal reformasi menurut sejarah yang kita pelajari, namun "revolusi" yang dilakukan agar kesewenangan dapat dihukum menggunakan pengadilan rakyat yang sangat ideal untuk mengadili penjahat bangsa untuk bangsa sendiri.
Gaung-gaung revolusi mulai kala sekarang telah menampakkan arah. Kepanasan dan kegerahan bernegara selalu dirasakan oleh kaum proletar yang mengharapakan kesejahteraan. Semoga dengan semangat reformasi yang telah berusia sewindu lamanya makin memperkuat khoiroh perjuangan ideologi bangsa menuju sebuah agenda yang perlu dirintis bersama dengan segera melaksanakan revolusi.**
Sabtu, 24 Mei 2008 (Terbit di AP Post)
Reformasi Menjadi Nisan
Oleh: Sutami
Tewasnya empat mahasiswa Trisakti karena berteriak menyangkut ranah kekuasaan Orde Baru yang harus segera turun menggelorakan Tragedi 12 Mei 1998 menjadi pijakan peristiwa monumental dalam politik bangsa Indonesia. Dan tidak kalah pentingnya peristiwa tersebut menjadi batu cermin bahwa kekuatan mahasiswa dalam menumbangkan kekuasaan tiran adalah gerakan moral yang berlandaskan semangat kepeloporan. Hasilnya Soeharto harus Gulung tikar tepat 21 Mei 1998 sehari setelah bangsa Indonesia memperingati hari Kebangkitan Nasional.
Dentuman reformasi melahirkan lembaran baru bagi bangsa. Terkuncinya ruang demokrasi akibat kekuatan dari kroni coba digusur itulah harapan awalnya. Reformasi telah sepuluh tahun menjadi teman bangsa Indonesia. Banyak juga hasil yang dapat dirasakan. Memilih presiden, gubernur, bupati, dan walikota secara langsung merupakan buah segar yang telah disantap dari Sabang sampai Merauke dengan start pemilihan presiden 2004.
Reformasi bukanlah cita-cita akhir. Sebab arah tujuan bangsa secara garis besar telah menggariskan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Berarti reformasi salah satu pengawalan agar Indonesia jalannya tak sesat. Namun semangat-semangat reformasi harus tetap dipatrikan oleh seluruh elemen bangsa dengan tidak hanya dimonopoli kalangan mahasiswa. Terkadang perkara inilah paling sulit. Morat-maritnya ekonomi menjelang kenaikan BBM, bermunculannya perkara-perkara korupsi menjadi tanda tiada ruang semangat reformasi di jiwa pelaku-pelaku para pengemban kekuasaan bangsa pada hari ini.
Korupsi yang menjadi-jadi membuat luntur kepercayaan, bahkan akan menimbulkan sikap saling curiga. Imbasnya pembangkangan hukum akan terkumandang jika tidak ada kesadaran dari anak emas bangsa yang posisinya sedang di puncak kekuasaan. Sebab masyarakat bakal menjadi kelompok yang apatis, kelompok yang sadis, kelompok yang frustasi akibat perilaku pemimpin yang miring ditambah cekikan ekonomi karena tak mampu melawan lambungan harga.
Bangsa Indonesia sebenarnya adalah bangsa yang cinta damai, tapi lebih cinta kepada kemerdekaan. Perlu diwaspadai bersama ketika istilah kemerdekaan dipakai sebagai senjata bagi kebebasan tanpa arah tapi memiliki tujuan bagi kepentingan asing dalam memporakporandakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Harus disadari bersama masyarakat Indonesia paling mudah diadu domba dan termudah lagi adalah diberi uang biar tidak protes. Metode Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang digunakan SBY-JK sebenarnya dapat menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Sia-sia rasanya perjuangan para mahasiswa sepuluh tahun silam. Segala ruang telah tertutup bagi masyarakat apalagi bagi golongan kaum miskin. Seluruh sektor secara pelan telah nampak di privatisasikan oleh pemerintah. Wadah pendidikan pun tak lepas dari target upaya untuk meng-komersialisasikannya. Sepertinya ada kesan pemerintah mengurus bangsa tidak serius. Sebab elemen dasar berupa pendidikan pun tak terselamatkan. Istilah Badan Hukum Pendidikan menjadi sodoran pemerintah dalam rangka mebodohkan generasi mudanya. Padahal pendidikan asset masa depan bangsa. Jika dalam ekonominya menyebutnya adalah belanja modal. Tentu masa depan bangsa harus dikendalikan oleh pemuda-pemuda Indonesia yang pintar cemerlang sekaligus berani seperti Tan Malaka ataupun Soekarno. Di era yang serba kapitalis sekarang, kita dihadapkan kepada dua sisi pilihan. Yakni laba/keuntungan atau sisi kemanusian. Memilih kongkalikong dengan kapitalis berarti sisi kemanusiaan dimusnahkan. Kalau Pancasila menjadi dasar Negara pun harus diubah karena sila kedua membicarakan ranah kemanusiaan. Tetapi realitas sekarang telah menjurus ke arah tunduknya pemerintah kepada kapitalisme. Di mana tujuan kapitalis tidak jauh dari kolonialisme.
Indikasinya adalah melalui pencitraan bobroknya kalangan muda. Protes kalangan mahasiswa dicitrakan tidak bermoral dan anarkis. Karena moral dan etika diidentikkan harus linier dengan kekuasaan. Yang ujung-ujungnya adalah meredam nyanyian sumbang akan realitas hidup pada sisi sosial kemasyarakatan. Secara sistematis, gerakan-gerakan menidurkan karya berfikir kritis antara ilmu pengetahuan dengan menyandingkan realitas telah berjalan. Keadaan direkayasa, diciptakan oleh kekuasaan dengan bisikan kaum kapitalis. Kampus-kampus ditetanggai pusat-pusat perbelanjaan, karya-karya hiburan lebih mengangkat tema ke-hantuan yang hina dalam kajian ilmu pengetahuan dengan objek dan subjek kalangan muda bermayoritaskan mahasiswa.
Runtuh bangsa bila tak ada yang menghadangnya. Mahasiswa ruang geraknya mulai disetir ke dunia hedonis ruang politik kenegaraan dengan konteks kekinian diharamkan untuk menjamahnya. Jika tidak sigap dan siap berhadapan, maka mahasiswa bakal menjadi golongan yang mudah di ayun-ayun pikirannya karena sistem menciptakan mahasiswa untuk menjadi golongan pem-beo serta tak sanggup berpikir kritis apalagi menyuarakannya. Padahal semangat republiken, kepeloporan, kejuangan mayoritas berasal dari kalangan muda khususnya mahasiswa. Rintihan derpaan hidup masyarakat selalu jadi pertimbangan mahasiswa dalam bersuara. Secara otomatis ketika mahasiswa lebih memilih menjadi pengikut kapitalis/laba tanpa memperhatikan aspek kemanusiaan, maka semangat reformasi akan serta merta mati tanpa peninggalan roh sekalipun. Tapi yang pasti Indonesia hari-harinya membutuhkan peran dari mahasiswa. Hidup mahasiswa !!! ** *
Penulis adalah Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Untan
Langganan:
Komentar (Atom)