Dirundung ruang pengap, gelap, hitam, pelit cahaya aku nyebutnya; ruang jiwa q tk mampu ku hibur; apalgi terhibur. Aku dendam; aku benci akan keadaan yang menimpaku. Tapi haruskah aku jadi pendendam? Percuma, kata nasihat ulama. Dendam itu dosa. Tapi itulah duniaku......... Burung ku panggil tak lagi menyhut panggilanku; padahal aku bisa bhsnya brung. aku di tinggalkan....tapi aku harus menyambutnya. itulah kesunyianku...............
Minggu, 06 September 2009
Menyambut Kesunyian
Rasa galau semkin bergelantungan di dalam rohku, tak tahu tapi itulah. Ingin aku menghujat; tapi itu bisa merusak dunia. Seperti TUhan tak berpihak dengan ku! Tiada sebutir pasir pun yang ada ditanganku. Pasir di depan mata tapi telh dihembus oleh angin berlari jauh meski hanya sepoaian. Risih aku dengan dunia, benci aku dengan pasir; benci aku dengan angin. Perjalanan yang ku tempuh seperti tidak berguna; hasilnya tak pernah ku panen bila ku berkebun sepertinya.
Dirundung ruang pengap, gelap, hitam, pelit cahaya aku nyebutnya; ruang jiwa q tk mampu ku hibur; apalgi terhibur. Aku dendam; aku benci akan keadaan yang menimpaku. Tapi haruskah aku jadi pendendam? Percuma, kata nasihat ulama. Dendam itu dosa. Tapi itulah duniaku......... Burung ku panggil tak lagi menyhut panggilanku; padahal aku bisa bhsnya brung. aku di tinggalkan....tapi aku harus menyambutnya. itulah kesunyianku...............
Dirundung ruang pengap, gelap, hitam, pelit cahaya aku nyebutnya; ruang jiwa q tk mampu ku hibur; apalgi terhibur. Aku dendam; aku benci akan keadaan yang menimpaku. Tapi haruskah aku jadi pendendam? Percuma, kata nasihat ulama. Dendam itu dosa. Tapi itulah duniaku......... Burung ku panggil tak lagi menyhut panggilanku; padahal aku bisa bhsnya brung. aku di tinggalkan....tapi aku harus menyambutnya. itulah kesunyianku...............
Melempar Kesendirian
membangun dunia rasanya akan tercapai. tapi realistiskah? membangun dunia baru impianku. aku bosan berjalan tiada teguran. tiadak ada yang menoleh; itulah hidup ini. terasa sulit jadinya. selagi ada kesempatan ingin ku menggapainya. kenapa? aq sadar jiwaku bukan milik diriku sendiri. Ad alam, ada tuhan disn.
tapi adakah yg mendengar jiwaku? aq kejar bintang agr dia mau berteman seumur hidup dengan q, yg q tahu bintang bisa bersinar; q ingin sinarnya menerangi diriku biar q terlihat biar ku tak lg sendiri sunyi. tolong loloskan permintaan q untuk melempar kesendirian
tapi adakah yg mendengar jiwaku? aq kejar bintang agr dia mau berteman seumur hidup dengan q, yg q tahu bintang bisa bersinar; q ingin sinarnya menerangi diriku biar q terlihat biar ku tak lg sendiri sunyi. tolong loloskan permintaan q untuk melempar kesendirian
Bolehkah Aku Minta Maaf?
Itulah kata yang pernah di ucapkan Fidel Castro kepada Che Guevera; teman sama-sam memanggul senjata. Masuk hutan keluar hutan dalam merebut revolusi Cuba. Tapi Che diam tanpa respon tetap dengan jalanya sendiri dan melanjutkan ekspansi k Bolivia. Entah Fidel atau Che yang benar kita tidak tahu karena mereka adalah teman baik awalnya. Atau mereka sama-sama klaim menang atas kelicikan mereka. Saling puji di catatan hidup mereka itu memang keharusan sebagai pelaku revolusi. Merasa menang atas kelicikan masing-masing; entah strategi belah bambu; entah ayam potong; entah bola salju hanya arwah Che Guevara dan Bangkai Fidel yang saling tahu. Sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh insan2 pejuang yang memiliki tujuan sama, yakni revolusi. Pertanyaan si Fidel kpd Che "Bolehkah Aku Minta Maaf"?
Aku Cinta Padamu
Aku Cinta Padamu
Goerge seorang penulis dan Grace seorang wanita karir yang berkonsentrasi di dunia bankir. Merka berkenalan di sebuah acara pesta seorang teman mereka. Sebuah hubugan yang biasa saja. Tidak ada respek dari Goerge maupun Grace pada mula ketemu.
Tapi semua berubah saat Grace menawarkan Goerge pulang sama-sama. Saat goerge menunggu taxi ingin pulang ke rumahnya. Perbincangan singkat di mulai. Goerge dan Grace begitu cepat bahkan mudah akrab.
Di waktu senggang Goerge mengajak Grace jalan berdua. Bercerita tentang apa saja, kebetulan tingkat pandangan hidup mereka agak mirip. Goerge pun jatuh hati terhadap Grace. Grace tahu itu tapi Goerge masih belum mau mengatakannya intinya waktu belum tepat menurut pandangannya.
Goerge dan Grace semakin akrab. Benih cintah yang tumbuh semakin mekar, Grace hanya tertawa melihat Goerge yang telah diberinya peluang untuk menyaakan cinta pada dirinya. Hampir sebulan perkenalan mereka, Goerge bertanya sama Grace tapi hanya minta pendapat. Ia di tawari untuk menuliskan cerita hidup masyarakat di pedalaman tentu saja ini akan memakan waktu yang lama. Lama Goerge berfikir akhirnya tawaran itu diterimanya setelah dikuatkan oleh saran Grace sang pujaan hatinya.
Karena pendapatan yang dijanjikan bila ia mampu menyelesaikan sanggup buat melamar anak orang katanya. Wow besar benar kata grace lalu mereka tertawa berdua dalam menghabiskan malam.
Komunikasi tetap lancar meski mereka berada di tempat berjauhan. Setiap malam Goerge selalu terbayang dan teringat pada Grace. Grace yang juga ditumpuki oleh segala aktivitas. Saat Goerge mengajukan cuti beberapa hari hatinya riang karena ia berasumsi dapat bertemu Grace. Karena kesibukan grace berkilah bahakan menghindar kabarnya tapi Grace juga sedang sakit. Membuat ia sedikit putus asa dan kecewa hatinya karena Goerge memendam perasaan .
Lalu ada panggilan dari pihak yang mengontraknya untuk segera kembali. Mungkin karena rasa cinta yang yang tak sampai akhirnya merambat ke pekerjaan. Si Goerge bersitegang dengan produksi kepenulisan. Banyak umpatan yang lontarkan oleh si pemodal hingga membuat Goerge naik pitam tak kepalang tanggung. Untung segera di damaikan oleh temannya Goerge hingga sedikit mereda.
Bila si Grace mendengar umpatannya mungkin si Grace pun bisa dendam kesumat atau tersinggung. Itu akibat kesalah pahaman Goerge dengan orang lain bukan dengan Grace.
Akhirnya diputuskan oleh si Goerge ia akan selesaikan proyeknya dengan perasaan kacaubalau. Pikirannya menjadi bercabang si grace yang seperti tidak peduli lagi dengan rasa cintanya dan pekerjaan yang menyisakan pertikaian.
Tibalah saat yang genting ketika Goerge terjebak oleh kecelakaan di mana nyawanya sekarat dan tidak mungkin tertolong. Dan berita ini sampai ke Grace. Sebelum hembuskan nafas, Goerge menangis dan berteriak memanggil Grace….Grace….Grace…. Aku cinta Padamu!!! Kawannya Goerge mendekat. Tenang katanya. Aku hamper dekat kata Goerge. Tolong kamu serahkan hasil tulisanku kepada grace. Perempuan yang sangat aku cintai tapi aku tak sempat mengatakan cintaku padanya. Apakah ia mengetahuinya kata temanya di akhir percakapan. Ya, kata Goerge. Dan Goerge tak mampu bertahan terhadap ganasnya kecelakaan. Rohnya pergi dengan meninggalkan rasa penasaran cintanya kepada Grace, perempuan sederhana yang ia kagumi, sayangi, dan cintai dengan sepenuh hati.
Si Grace juga sedih apalagi saat kenangan terakhir dari Goerge yang diserahkan kepadanya oleh si teman Goerge langsung membuat Grace bercucuran air matanya. Karena ia perempuan yang humanis dan punya nilai kemanusiaan yang tinggi. Goerge…erang si Grace; lelaki yang tewas saat bekerja padahal ia akan melamar Grace bila pekerjaanya selesai. Itulah kalimat terakhir dalam catatannya yang di baca oleh Grace.
Goerge seorang penulis dan Grace seorang wanita karir yang berkonsentrasi di dunia bankir. Merka berkenalan di sebuah acara pesta seorang teman mereka. Sebuah hubugan yang biasa saja. Tidak ada respek dari Goerge maupun Grace pada mula ketemu.
Tapi semua berubah saat Grace menawarkan Goerge pulang sama-sama. Saat goerge menunggu taxi ingin pulang ke rumahnya. Perbincangan singkat di mulai. Goerge dan Grace begitu cepat bahkan mudah akrab.
Di waktu senggang Goerge mengajak Grace jalan berdua. Bercerita tentang apa saja, kebetulan tingkat pandangan hidup mereka agak mirip. Goerge pun jatuh hati terhadap Grace. Grace tahu itu tapi Goerge masih belum mau mengatakannya intinya waktu belum tepat menurut pandangannya.
Goerge dan Grace semakin akrab. Benih cintah yang tumbuh semakin mekar, Grace hanya tertawa melihat Goerge yang telah diberinya peluang untuk menyaakan cinta pada dirinya. Hampir sebulan perkenalan mereka, Goerge bertanya sama Grace tapi hanya minta pendapat. Ia di tawari untuk menuliskan cerita hidup masyarakat di pedalaman tentu saja ini akan memakan waktu yang lama. Lama Goerge berfikir akhirnya tawaran itu diterimanya setelah dikuatkan oleh saran Grace sang pujaan hatinya.
Karena pendapatan yang dijanjikan bila ia mampu menyelesaikan sanggup buat melamar anak orang katanya. Wow besar benar kata grace lalu mereka tertawa berdua dalam menghabiskan malam.
Komunikasi tetap lancar meski mereka berada di tempat berjauhan. Setiap malam Goerge selalu terbayang dan teringat pada Grace. Grace yang juga ditumpuki oleh segala aktivitas. Saat Goerge mengajukan cuti beberapa hari hatinya riang karena ia berasumsi dapat bertemu Grace. Karena kesibukan grace berkilah bahakan menghindar kabarnya tapi Grace juga sedang sakit. Membuat ia sedikit putus asa dan kecewa hatinya karena Goerge memendam perasaan .
Lalu ada panggilan dari pihak yang mengontraknya untuk segera kembali. Mungkin karena rasa cinta yang yang tak sampai akhirnya merambat ke pekerjaan. Si Goerge bersitegang dengan produksi kepenulisan. Banyak umpatan yang lontarkan oleh si pemodal hingga membuat Goerge naik pitam tak kepalang tanggung. Untung segera di damaikan oleh temannya Goerge hingga sedikit mereda.
Bila si Grace mendengar umpatannya mungkin si Grace pun bisa dendam kesumat atau tersinggung. Itu akibat kesalah pahaman Goerge dengan orang lain bukan dengan Grace.
Akhirnya diputuskan oleh si Goerge ia akan selesaikan proyeknya dengan perasaan kacaubalau. Pikirannya menjadi bercabang si grace yang seperti tidak peduli lagi dengan rasa cintanya dan pekerjaan yang menyisakan pertikaian.
Tibalah saat yang genting ketika Goerge terjebak oleh kecelakaan di mana nyawanya sekarat dan tidak mungkin tertolong. Dan berita ini sampai ke Grace. Sebelum hembuskan nafas, Goerge menangis dan berteriak memanggil Grace….Grace….Grace…. Aku cinta Padamu!!! Kawannya Goerge mendekat. Tenang katanya. Aku hamper dekat kata Goerge. Tolong kamu serahkan hasil tulisanku kepada grace. Perempuan yang sangat aku cintai tapi aku tak sempat mengatakan cintaku padanya. Apakah ia mengetahuinya kata temanya di akhir percakapan. Ya, kata Goerge. Dan Goerge tak mampu bertahan terhadap ganasnya kecelakaan. Rohnya pergi dengan meninggalkan rasa penasaran cintanya kepada Grace, perempuan sederhana yang ia kagumi, sayangi, dan cintai dengan sepenuh hati.
Si Grace juga sedih apalagi saat kenangan terakhir dari Goerge yang diserahkan kepadanya oleh si teman Goerge langsung membuat Grace bercucuran air matanya. Karena ia perempuan yang humanis dan punya nilai kemanusiaan yang tinggi. Goerge…erang si Grace; lelaki yang tewas saat bekerja padahal ia akan melamar Grace bila pekerjaanya selesai. Itulah kalimat terakhir dalam catatannya yang di baca oleh Grace.
Puisi Yang Q terima dari seorang kaum Hawa 31 Juli 2009
Kepada Adam pada Tanjung Timur,
jika tak keberatan,
'ku letakkan kau dalam kata-kata,
bersama laut saat kita menanti pagi
pada langit penuh asap;
orang2 bilang itu kembang api.
Tapi apalah pedulimu pada waktu?
Mari duduk, katamu;
biarkan waktu berbisik pada pasir2 ini saja...
jika tak keberatan,
'ku letakkan kau dalam kata-kata,
bersama laut saat kita menanti pagi
pada langit penuh asap;
orang2 bilang itu kembang api.
Tapi apalah pedulimu pada waktu?
Mari duduk, katamu;
biarkan waktu berbisik pada pasir2 ini saja...
Tari Pendet
Tari Pendet Menentukan Nasib Bangsa
Oleh: Sutami
Indonesia seperti tak pernah sepi dari deraan masalah. Masalah terus datang silih berganti. Datang untuk menyerang konsentrasi reaktif masyarakat bangsa. Entah sudah yang keberapa kalinya Indonesia seperti telah ditakdirkan untuk selalu bersitegang dengan Malaysia. Dari masalah batas wilayah sampai ke masalah kebudayaan. Reog Ponorogo, lagu Sayang-Sayange dan terbaru Tari Pendet yang dijadikan iklan pariwisata oleh Malaysia cukup mengundang reaksi. Reaksi tidak terima Tari Pendet di klaim sebagai kebudayaan milik Malaysia. Tari yang berasal dari Bali tersebut namanya pun semakin dikenal, tidak menutup kemungkinan nama Tarian yang baru dikenal oleh Bangsa Indonesia di kawasan selain Bali.
Persoalan mengenai klaim kebudayaan cukup membantu rasa nasionalisme rakyat bila di takar dari membela Bangsa jika faktor emosi yang dikedepankan. Namun tetap menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan oleh pemerintah. Minimal tidak ada lagi kejadian kaliam-mengklaim bilapun itu memang benar terjadi. Sebab wacana yang berkembang sudah terlalu sering; apinya sudah besar menyala sulit juga untuk di padamkan. Di satu sisi justru akan terus memojokkan bangsa Indonesia, sebab aset berupa kebudayaan bukan sekali dua kali di akui yang menyebabkan urat saraf Indonesia menegang. Tindakan resmi yang dilakukan oleh pemerintah justru kelihatan seperti tidak ada ujung tidak ada pangkal. Ataukah akibat memang pemerintah memiliki tabiat yang tidak terlalu mengganggap penting menjaga kebudayaan dari bahaya pencurian hak cipta oleh bangsa lain.
Sebenarnya dapat saja dikatakan bahwa sebagai Negara serumpun, Malaysia pada hakikatnya iri dengan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam. Sehingga rasa iri ditumpahkan melalui pengklaiman hak cipta. Tapi Indonesia dan Malaysia meski serumpun memiliki sejarah pernah ingin perang meski tidak sampai terjadi benar. Adalah presiden Soekarno, orang yang mencetus Ganyang Malaysia. Sebuah politik yang ternyata cukup ampuh untuk menyatukan kembali rakyat serta membangkitkan rasa Nasionalisme di tengah rentan bahaya dis integrasi bangsa. Karena pemberontakan yang semkain meluas dan kemerdekaan bangsa Indonesia yang di proklamirkan pada 17 Agustus 1945 telah seperti tanpa roh jadinya.
Bukan berarti Tari Pendet juga kita lepaskan semudahnya sehingga membiarkan Malaysia mempatenkannya. Sebagai anak bangsa tentu juga malu bila hal tersebut sampai benar-benar terjadi. Malu akibat menjaga warisan leluhur pun tidak mampu apalagi menjaga Negara sebesar Indonesia. Negara yang terpajang dari Sabang sampai Merauke dan dihubungkan oleh laut-laut yang sungguh kaya panoramanya. Terlebih detik-detik Proklamasi baru di peringati tentu menjadi nilai nambah rasa tanggung jawab mempertahankan Tari Pendet dari bahaya pencurian.
Tari Pendet menjelma menjadi ikon masalah bangsa yang begitu besar nampaknya. Sehingga sedikit banyak perhatian-perhatian kepada masalah infrastruktur; penggusuran mampu tergusur olehnya. Ruang refleksi bagi hari kemerdekaan lebih banyak tersedot ke tari-tarian jadinya. Bukan berarti masalah tarian tidak penting. Namun jangan terlalu sampai membungkus persoalan-persoalan mendesak dan sangat menentukan nasib bangsa ke depan. Memang celah dari budaya cukup efektif mencuri perhatian masyarakat, dan sedikit terlupa dalam melihat realita bangsa sesungguhnya. Menyelesaikan masalah budaya memang adalah keharusan yang mendesak. Inventarisasi budaya-budaya nusantara adalah hal yang bisa di lakukan agar tidak terus menerus menjadi isu dalam memoles keadaan.
Ketika hangat-hangatnya persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan Presiden (Pilpres) 8 juli 2009 bom di Rizt-Charlton dan J.W Marriot yang meledak. Mendekati kucuran hutang dari IMF Tari Pendet yang bergejolak ke permukaan. Fokus dalam mengawal nasib bangsa dapat menjadi tidak maksimal dibuatnya. Di Negara yang menganut paham presidensil idealnya memang ada oposisi dalam mengawal jalannya pemerintahan. Tapi politisi Indonesia belum mampu mewujudkannya. Sehingga bisa menyebabkan pemerintah berjalan dengan tidak terkawal.
Apalagi masa Kabinet Indonesia Bersatu hanya menyisakan kurang lebih sebulan lagi perjalanannya. Dan pemenang pilpres telah ditetapkan oleh Pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan dikuatkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yakni SBY- Boediono. Berarti masa-masa penyusunan kabinet baru telah di mulai dan itu yang mesti soroti. Sebab dalam kampanye debat calon presiden tidak ada satu pun calon mengungkap bagaimana cara ia merekrut para pembantunya (menteri) dalam mewujudkan mimpi-mimpinya yang tertera dalam visi misi. Asal rekrut atau hasil pesanan pihak luar adalah merupakan hal yang perlu dihindarkan demi nasib bangsa yang cita-citakan oleh Undang-Undang dasar 1945 yang tertera pada alenia ke empat.
Kepemilikan aset oleh asing seperti oleh Freefort sebenarnya adalah problem paling utama bangsa biar ke depan kesejahteraan yang diimpikan mampu terwujud. Kekayaan yang terkandung di perut bumi jangan sampai menjadi lahan kompromistis antara penguasa dan asing dan bukan dengan rakyatnya. Yang telah menjadi persoalan yang sulit lepas dari masalah kebangsaan meski telah merdeka 64 tahun lamanya. Sehingga Tari Pendet tariannya yang indah; sayang bila keberadaanya hanya sekedar menjadi alat demi menggelabui nilai kritis terhadap kondisi bangsa. Tapi tari pendet menjadi penentu nasib bangsa. Bila ia bukan alat pengngelabu; tapi hadir secara utuh dengan seninya. Bagaimana pun untuk konfrontasi dengan Malaysia sekarang bukan lagi zaman yang tepat; dana akan sia-sia mengalirnya. Semoga Tari Pendet dan Malaysia dapat beriringan dalam menyuarakan kejujuran dan keadilan yang di butuhkan oleh rakyat Indonesia maupu masayrakat dunia secara utuh. Demi tegaknya keadilan agar kesejahteraan rakyat terpenuhi dan menjadi bangsa yang merdeka dengan utuh.
Oleh: Sutami
Indonesia seperti tak pernah sepi dari deraan masalah. Masalah terus datang silih berganti. Datang untuk menyerang konsentrasi reaktif masyarakat bangsa. Entah sudah yang keberapa kalinya Indonesia seperti telah ditakdirkan untuk selalu bersitegang dengan Malaysia. Dari masalah batas wilayah sampai ke masalah kebudayaan. Reog Ponorogo, lagu Sayang-Sayange dan terbaru Tari Pendet yang dijadikan iklan pariwisata oleh Malaysia cukup mengundang reaksi. Reaksi tidak terima Tari Pendet di klaim sebagai kebudayaan milik Malaysia. Tari yang berasal dari Bali tersebut namanya pun semakin dikenal, tidak menutup kemungkinan nama Tarian yang baru dikenal oleh Bangsa Indonesia di kawasan selain Bali.
Persoalan mengenai klaim kebudayaan cukup membantu rasa nasionalisme rakyat bila di takar dari membela Bangsa jika faktor emosi yang dikedepankan. Namun tetap menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan oleh pemerintah. Minimal tidak ada lagi kejadian kaliam-mengklaim bilapun itu memang benar terjadi. Sebab wacana yang berkembang sudah terlalu sering; apinya sudah besar menyala sulit juga untuk di padamkan. Di satu sisi justru akan terus memojokkan bangsa Indonesia, sebab aset berupa kebudayaan bukan sekali dua kali di akui yang menyebabkan urat saraf Indonesia menegang. Tindakan resmi yang dilakukan oleh pemerintah justru kelihatan seperti tidak ada ujung tidak ada pangkal. Ataukah akibat memang pemerintah memiliki tabiat yang tidak terlalu mengganggap penting menjaga kebudayaan dari bahaya pencurian hak cipta oleh bangsa lain.
Sebenarnya dapat saja dikatakan bahwa sebagai Negara serumpun, Malaysia pada hakikatnya iri dengan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam. Sehingga rasa iri ditumpahkan melalui pengklaiman hak cipta. Tapi Indonesia dan Malaysia meski serumpun memiliki sejarah pernah ingin perang meski tidak sampai terjadi benar. Adalah presiden Soekarno, orang yang mencetus Ganyang Malaysia. Sebuah politik yang ternyata cukup ampuh untuk menyatukan kembali rakyat serta membangkitkan rasa Nasionalisme di tengah rentan bahaya dis integrasi bangsa. Karena pemberontakan yang semkain meluas dan kemerdekaan bangsa Indonesia yang di proklamirkan pada 17 Agustus 1945 telah seperti tanpa roh jadinya.
Bukan berarti Tari Pendet juga kita lepaskan semudahnya sehingga membiarkan Malaysia mempatenkannya. Sebagai anak bangsa tentu juga malu bila hal tersebut sampai benar-benar terjadi. Malu akibat menjaga warisan leluhur pun tidak mampu apalagi menjaga Negara sebesar Indonesia. Negara yang terpajang dari Sabang sampai Merauke dan dihubungkan oleh laut-laut yang sungguh kaya panoramanya. Terlebih detik-detik Proklamasi baru di peringati tentu menjadi nilai nambah rasa tanggung jawab mempertahankan Tari Pendet dari bahaya pencurian.
Tari Pendet menjelma menjadi ikon masalah bangsa yang begitu besar nampaknya. Sehingga sedikit banyak perhatian-perhatian kepada masalah infrastruktur; penggusuran mampu tergusur olehnya. Ruang refleksi bagi hari kemerdekaan lebih banyak tersedot ke tari-tarian jadinya. Bukan berarti masalah tarian tidak penting. Namun jangan terlalu sampai membungkus persoalan-persoalan mendesak dan sangat menentukan nasib bangsa ke depan. Memang celah dari budaya cukup efektif mencuri perhatian masyarakat, dan sedikit terlupa dalam melihat realita bangsa sesungguhnya. Menyelesaikan masalah budaya memang adalah keharusan yang mendesak. Inventarisasi budaya-budaya nusantara adalah hal yang bisa di lakukan agar tidak terus menerus menjadi isu dalam memoles keadaan.
Ketika hangat-hangatnya persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan Presiden (Pilpres) 8 juli 2009 bom di Rizt-Charlton dan J.W Marriot yang meledak. Mendekati kucuran hutang dari IMF Tari Pendet yang bergejolak ke permukaan. Fokus dalam mengawal nasib bangsa dapat menjadi tidak maksimal dibuatnya. Di Negara yang menganut paham presidensil idealnya memang ada oposisi dalam mengawal jalannya pemerintahan. Tapi politisi Indonesia belum mampu mewujudkannya. Sehingga bisa menyebabkan pemerintah berjalan dengan tidak terkawal.
Apalagi masa Kabinet Indonesia Bersatu hanya menyisakan kurang lebih sebulan lagi perjalanannya. Dan pemenang pilpres telah ditetapkan oleh Pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan dikuatkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yakni SBY- Boediono. Berarti masa-masa penyusunan kabinet baru telah di mulai dan itu yang mesti soroti. Sebab dalam kampanye debat calon presiden tidak ada satu pun calon mengungkap bagaimana cara ia merekrut para pembantunya (menteri) dalam mewujudkan mimpi-mimpinya yang tertera dalam visi misi. Asal rekrut atau hasil pesanan pihak luar adalah merupakan hal yang perlu dihindarkan demi nasib bangsa yang cita-citakan oleh Undang-Undang dasar 1945 yang tertera pada alenia ke empat.
Kepemilikan aset oleh asing seperti oleh Freefort sebenarnya adalah problem paling utama bangsa biar ke depan kesejahteraan yang diimpikan mampu terwujud. Kekayaan yang terkandung di perut bumi jangan sampai menjadi lahan kompromistis antara penguasa dan asing dan bukan dengan rakyatnya. Yang telah menjadi persoalan yang sulit lepas dari masalah kebangsaan meski telah merdeka 64 tahun lamanya. Sehingga Tari Pendet tariannya yang indah; sayang bila keberadaanya hanya sekedar menjadi alat demi menggelabui nilai kritis terhadap kondisi bangsa. Tapi tari pendet menjadi penentu nasib bangsa. Bila ia bukan alat pengngelabu; tapi hadir secara utuh dengan seninya. Bagaimana pun untuk konfrontasi dengan Malaysia sekarang bukan lagi zaman yang tepat; dana akan sia-sia mengalirnya. Semoga Tari Pendet dan Malaysia dapat beriringan dalam menyuarakan kejujuran dan keadilan yang di butuhkan oleh rakyat Indonesia maupu masayrakat dunia secara utuh. Demi tegaknya keadilan agar kesejahteraan rakyat terpenuhi dan menjadi bangsa yang merdeka dengan utuh.
Kamis, 29 Mei 2008
Sabtu, 22 Juli 2006 (Terbit di AP Post)
Reformasi Gerbang Revolusi
Oleh : SUTAMI
KEMATIAN pahlawan reformasi terjadi delapan tahun silam. Tepatnya 12 Mei 1998 delapan hari menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan sembilan hari menjelang runtuhnya kepemimpinan dictator terkejam Indonesia Soeharto. Tanpa terasa waktu yang begitu bersejarah bagi perubahan bangsa Indonesia telah terlewatkan bersama oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.
Peranan dari mahasiswa dalam membuat sejarah negeri selalu menjadi landasan awal bagi sebuah perubahan. Dengan jiwa muda keidealisan estafet kepemimpinan dan keberlangsungan negeri Indonesia dapat termanufaktur hingga sekarang. Partisipasi aktif dalam menciptakan perubahan mulai dari Budi Utomo, penurunan Orde Lama tahun '66, kasus Malari , hingga reformasi 1998 pergulatan intelektual dalam melawan segala kepemimpinan yang tiran.
Kehidupan zaman terus mengalir deras tanpa dapat ditahan lajunya arus zaman Reformasi bergulir adalah tanda kemenangan rakyat terhadap kekejaman pemerintah Orde Baru dalam kehidupan bernegara, berbangsa, berpolitik, bahkan berpikir. Pergantian struktur pemerintahan pasca reformasi hingga sekarang, roh yang ditampilkan seolah jiwa feodal patrilinialistik masih menjadi primadona. Pengampunan berdasarkan alasan kesehatan dilakukan sewaktu moment sewindu reformasi sedang menggelinding. Prosesi penegakan hukum yang tebang pilih, pada pemerintahan sekarang sangat jelas tampak dipermukaan.
Rakyat Indonesia masih diselimut krisis kesejahteraan. Kontras memang, penguras keuangan negara, para debitur BLBI bebas dari jeratan hukum dan nyelonong menerobos istana melalui mediasi komandan tertinggi polisi. Sepertinya Indonesia sekarang seperti negara rimba. Segala kekuasaan difokuskan melalui kekuatan-kekuatan tangan para penguasa, hukum berjalan layaknya seperti sebuah pisau. Pisau akan mempunyai power atau kekuatan sangat luar biasa untuk mengiris benda yang berada dibawah, sedang mata pisau bagian atas membuat pisau seperti tidak mempunyai fungsi untuk mengiris. Jadi hukum di Indonesia berjalan dengan filosofi hukum mata pisau.
Sudah selayaknya sebagai rakyat Indonesia yang cinta akan kebenaran, segala tulisan dalam pembukaan UUD'45 kita tuntut realisasinya. Jadi persepsi berbagai kalangan selama ini bahwasanya setiap jeritan tuntutan harus dibubuhi solusi adalah sebuah paradigma pemikiran yang kolot, sebab para aparatur negara diberi uang bukan untuk menampung solusi melainkan bekerja sesuai kaidah yang berlaku demi kesejahteraan serta kemakmuran rakyat.
Agar semangat roh perjuangan reformasi tetap menggema dalam sanubari rakyat, jangan sekali-kali menggunakan jalan kompromi untuk setiap kebijakan-kebijakan yang dibuat melenceng dari semangat reformasi, melanggar hukum serta mengkhianati rakyat demi kepentingan kelompok, pribadi atau lainnya wajib kita lawan dengan dengungan power people.
Keadilan untuk rakyat dimasa pemerintahan SBY yang naik tahta hasil dari kue-kue reformasi pada pemilihan presiden secara langsung 2004 silam sangat jauh panggang dari api. Bayangkan setiap bayi terlahir dibumi Indonesia langsung disuguhi fenomema hutang yang harus tanggung si bayi polos tak berdosa hanya untuk menebus kesalahan penguasa dalam pemenuhan hasrat keserakahan.
Perjuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia sepertinya hambar oleh anak cucu sendiri. Masalah kebangsaan hingga hampir seabad kebangkitan nasional dan sewindu reformasi masih belum menampakkan sinar kecerahan menuju perbaikan segala sistem yang ada. Pusing mungkin kepala-kepala pejuang bangsa. Terutama pejuang mahasiswa yang gugur dalam mencetuskan reformasi. Kue-kue reformasi ternyata mereka suguhkan bukan untuk rakyat sekalian semesta, namun untuk oknum yang berlindung dengan nama reformasi.
Prosesi pengawalan reformasi oleh mahasiswa dikala sekarang sepertinya penuh kecurigaan dari pihak aparat. Banyaknya kasus bentrok polisi dengan mahasisiwa menandakan struktur pemerintahan belum menjadi bagian dari sejarah. Keengganan keterbukaan dengan public menjadikan pemerintah telah menciptakan sistem kasta dalam tatanan kehidupan. Rakyat menjadi kaum termarjinalkan oleh sistem yang diciptakan. Kegagahan aparat menjaga kantor tempat berlindung kaum-kaum penindas rakyat selama ini, tampaknya sebuah profesi yang digeluti tidak sesuai dengan cita-cita awal. Belum pernah terdengar aparat menghadang presiden SBY memasuki istana karena menaikkan harga BBM atau menghadang jaksa agung yang mengumumkan sebuah pengkhianatan reformasi untuk mengampuni Soeharto.
Kejelasan akan nasib bangsa sekarang masih samara-samar. Apakah akan kegerbang demokrasi atau militerisme. Persatuan dari semua kalangan yang cinta akan Indonesia sepatutnya bergandengan tangan berpikir dengan penuh bijaksana menselaraskan segala keniscayaan pemerintah. Perubahan menuntut perjuangan, pengorbanan, dan bukan omongan. Di zaman sekarang dituntut eksistensi peran dari kaum intelektual muda untuk segera merealisaikannya. Di tangan mahasiswa tergenggam arah bangsa yang selaras dengan harapan pendiri bangsa. Posisi strategis dari mahasiswa terkadang ternoda oknum mahasisiwa sendiri.
Sebagaimana pada hari sekarang tidak ada peran yang dimainkan untuk menghadapi prosesi bangsa. Mungkin terlalu nikmat bermain kompromi tingkat tinggi sehingga roh perjuangan identitas mahasiswa berganti menjadi pundit-pundi uang. Selalu mencari posisi aman, menjadi pahlawan kesiangan sepertinya penyakit akut yang mewabahi orgasnisasi mahasiswa berskala besar.
Memang telah terjadi sebuah patologi dalam diri bangsa sekarang ini. Karena begitu akutnya diperlukan penyembuhan melalui terapi yang sangat mahal. Untuk mengubah penindasan-penindasan menjadi berkah kecerian harus menguatkan ideology diri untuk menghadapi segala macam hadangan bahkan cemoohan.
Di Perancis untuk mengubah tatanan kehidupan bernegara tidak mengenal reformasi menurut sejarah yang kita pelajari, namun "revolusi" yang dilakukan agar kesewenangan dapat dihukum menggunakan pengadilan rakyat yang sangat ideal untuk mengadili penjahat bangsa untuk bangsa sendiri.
Gaung-gaung revolusi mulai kala sekarang telah menampakkan arah. Kepanasan dan kegerahan bernegara selalu dirasakan oleh kaum proletar yang mengharapakan kesejahteraan. Semoga dengan semangat reformasi yang telah berusia sewindu lamanya makin memperkuat khoiroh perjuangan ideologi bangsa menuju sebuah agenda yang perlu dirintis bersama dengan segera melaksanakan revolusi.**
Langganan:
Komentar (Atom)