Label

Selasa, 17 Juli 2012

Burung Garuda


Gantungan Gamelan berkepala Burung Garuda  tanda Pinangan Majapahit
Replika Dipinjam Sultan Hamid untuk Inspirasi Rancang Lambang Negara

Burung garuda menjadi lambang bagi kesultanan Sintang. Dimana mulanya merupakan tanda pinangan Patih dari Majapahit kepada Ratu Putri Dara Juanti di Sintang.  Kini barang pinangan tersebut masih  tersimpan sebagai benda pusaka di kesultanan Sintang

SUTAMI, Sintang

Pontianak Post berkesempatan melihat benda pusaka di kesultanan Sintang. Dengan ditemani pembantu kesultanan, semua bisa diamati secara langsung. Banyak benda peninggalan sejarah tanda peradaban yang masih tersimpan. Meski  sebagian sudah tampak  lapuk termakan usia. Bila tidak ada penanganan atau perhatian khusus, pada masa mendatang benda pusaka tersebut tidak tertutup kemungkinan tinggal menyisakan cerita.

Tempat penyimpanan benda pusaka ini disebut museum oleh juru kunci. Museum itu  berupa kamar khusus yang masih satu bangunan dengan  istana. Letaknya  berada disisi kiri bangunan utama istana. Ada tiga buah
kamar setidaknya yang disediakan untuk menyimpan benda bersejarah tersebut.

Ruangan tiap kamar tidak terlalu luas. Tiap bilik mempunyai keistimewaan sendiri karena benda pusakanya. Masing-masing dapat mengisahkan tentang perjalanan masa lalu kerajaan yang menghadap ke Sungai Kapuas ini.  Benda pusaka yang didalam kamar itu sebagian disimpan dalam kaca dengan dilapisi kain kuning. Lalu sebagian lagi dibiarkan di ruang terbuka.


Salah satu benda yang  diruang terbuka itu adalah seperangkat gamelan. Benda tersebut cukup menarik perhatian. Belum lagi bila mendengar muasal keberadaannya. Dikisahkan, jika alat musik khas jawa itu merupakan tanda pinangan Patih Lohgender dari Majapahit. Dia memberikannya untuk meminang Ratu Putri Dara Juanti.

Gantungan gamelan dilengkapi dengan ukiran menarik berkepala burung garuda. Coraknya sangat mirip dengan lambang burung garuda yang menjadi lambang resmi Indonesia. Hanya saja ukiran pada bagian kakinya kini sudah terkelupas akibat termakan usia. Walau ukirannya berbahankan kayu jati sekalipun. “Gantungan gamelan ini sudah ada sejak abad ke enam. Ketika  Patih Lohgendir meminang Ratu Dara Juanti,” kata Thamrin Hasan atau biasa disapa Cik Thamrin (74), pembantu kesultanan Sintang, ini.

Patih Lohgender tidak hanya membawa gamelan ke Sintang. Tapi juga tanah Majapahit. Kedua benda itu menjadi bagian dari tanda mas kawin untuk pernikahan Patih dan Ratu. Namun dimana Patih berlabuh dan berapa banyak rombongan Majapahit datang ke Sintang, Cik Thamrin tidak menyebutkan. Sebab ada cerita yang menyebutkan jika pihak kerajaan Sintang saat berkunjung ke Majapahit cukup berjalan kaki. Tanpa harus berlayar menyeberangi lautan. “Kemungkinan hal yang sama juga dilakukan rombongan asal Majapahit,” kata Cik Thamrin.   

 Sejak abad keenam atau pernikahan Patih dan Ratu tersebut, kesultanan Sintang  menggunakan burung garuda sebagai lambang resmi. Kemudian ukiran kepala burung garuda di gantungan gamelan direplika ulang. Bentuknya dibuat mirip. Namun menjadi agak lebih besar. Pembuatan replikanya dikerjakan pada sekitar abad ke XVII.

Mengerjakannya dipercayakan kepada seorang pemahat handal bersuku dayak asal Kapuas Hulu. Hasil pahatan tersebut kini masih berdiri kokoh dengan disimpan di dalam kaca transparan. “ Nama pemahatnya kalau tidak salah Sutajaya,” kata Cik Thamrin.

Replika itu sendiri pernah berpindah tempat dari kesultanan Sintang  untuk beberapa lama. Lantaran dipinjam. Peminjamnya adalah Sultan Hamid II.  Konon katanya peminjaman itu sebagai salah satu insipirasi untuk merancang gambar lambang negara.

“Sultan Hamid memang pernah meminjam replika burung garuda dengan kesultanan Sintang. Waktu itu saya masih kecil,” kata pensiunan kantor Bappeda Pemkab Sintang, ini. (**)















Tidak ada komentar: